Daftar Blog Saya
Jumat, 10 April 2015
Rabu, 30 Mei 2012
Focus: How to Make Soft, Wavy Structures
A process for making wavy tubes in a controlled way could lead to the predictable fabrication of complex shapes.
Prescribed Pattern Transformation in Swelling Gel Tubes by Elastic Instability
Howon Lee, Jiaping Zhang, Hanqing Jiang, and Nicholas X. Fang
Published May 25, 2012
P. Ball
Pepper physics. The wavy cross-sections of bell peppers may be the result of buckling of a smooth tube.
H. Lee, et al., Phys. Rev. Lett. (2012)
Making waves. A tube that
swells from one end while being constrained at the other deforms into a
trumpet-bell shape (top). This structure may lower its elastic energy by
buckling instead (bottom).
Some of nature’s most delicate forms and patterns, such
as the fluted head of a daffodil or the convoluted labyrinths of
fingerprints, are created by buckling and wrinkling of soft tissue. In
hopes of mimicking such structures for future technology, a team
describes in Physical Review Letters
a technique for controlling the buckling shapes of small, soft tubes
and provides a theory to explain the results. The researchers hope their
work will lead to simple techniques for creating complex structures.
In recent years, researchers have become interested in
how buckling might generate patterns seen in the natural world, such as
the arrangements of leaves and florets on a flower stem or the crinkling
and folding of the leaves themselves. But Nicholas Fang of the
Massachusetts Institute of Technology in Cambridge and his colleagues
had a more practical, technological motivation for studying the regular
forms that buckling can generate in soft matter. Fang studies photonic
structures for controlling the flow of light, and he wondered whether
regular arrays of tiny buckles and wrinkles might scatter and reflect
light or sound, channeling and filtering it in useful ways.
To “grow” a deformable material and induce buckling, Fang
and his colleagues used a polymer gel that swells when it absorbs
water. They used a microfabrication technique to make short tubes with
diameters of several millimeters and walls of various thicknesses and
lengths. The tubes were fixed at one end to a solid surface. To induce
swelling starting at the free end of the tube, the researchers inverted
the tubes in oil and let the ends poke into a layer of water below.
Swelling deformed the tubes into truncated cone shapes,
which sometimes buckled by forming waves around their circumference,
leading to a many-pointed, star-shaped cross section. In general, the
shorter the tubes—compared with the diameter—the more wrinkles there
were. Surprisingly, the wall thickness had relatively little influence.
To understand the results, Fang and colleagues used a
simple model to calculate the shape that minimizes the total elastic
energy of a tube. Buckling costs elastic energy because it deforms the
structure, but it also reduces the energy from outward bending that a
smooth, trumpet-bell shape would require. For given conditions, the
minimum energy is a balance of the two contributions and results in a
particular number of buckles—which turns out to depend only on the
length-to-diameter ratio. The experimental results agreed well with
these theoretical predictions of the most stable mode of deformation.
“These patterns are lovely to look at,” says Michael
Marder, a specialist in nonlinear dynamics at the University of Texas at
Austin, “and [even] if the ability to control patterns is not yet at
the level of control that is likely to interest engineers, it’s a
promising step forward.”
Fang says the results may help explain some natural
systems—it’s no coincidence that the buckled gel rings resemble slices
of bell pepper, for example. “Bell peppers can be considered as a
tubular structure that grows under constraints from the ends,” he says.
“Often we find a slice of slender pepper displays a triangle shape, and
that of short and squat peppers appears square or even starlike.”
Xi Chen of Columbia University in New York, who has
studied the buckling patterns on the surfaces of fruits and vegetables,
is not yet convinced by the connection with nature. “It’s not yet clear
where the rather strict constraint on swelling—the key for obtaining the
shapes described in their paper—comes from in nature. It’s interesting
work, but there’s still a large gap before it could be applied directly
to natural systems.”
But mathematician Alan Newell of the University of
Arizona in Tucson, who has studied the role of buckling in the growth
patterns of leaves, says the results represent important progress.
“What’s good about this work is that they do a precise experiment, and
their results tend to agree with simple theories.”
–Philip Ball
Philip Ball is a freelance science writer in London and author of Curiosity: How Science Became Interested in Everything (2012).
More Information
Fisika Modern Bersua Sufisme
Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme
dan Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan
tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati)
dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan
spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk
menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari
partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai
benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan
dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat
diterangkan secara rasional.
Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf
atau menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan
yang egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti
meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian,
mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya
berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk
bercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama
kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian
dilihat sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan
atau pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan
hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal
yang bersifat spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di
Fisika. Belajar Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua
jenjang, namun untuk belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu
maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.
Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya,
perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klasik
(Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar dari Sufisme.
Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi
banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern
dan Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suatu
realitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan,
paradoks dan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan
misteri yang tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di
luar pemahaman manusia.
Sebelum masuk lebih jauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada
baiknya gambaran tentang Fisika klasik kita lihat kembali. Konsep
filosofis Fisika klasik adalah analitik, mekanistik dan deterministik.
Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkan alam semesta mengikuti
filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian ini semua fenomena
yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkan hukum-hukum
Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaan
diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka
perilaku suatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat
ditentukan. Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana
seperti benda jatuh bebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam
tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan
Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau
matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil
pengamatan.
Tidak dapat disangkal bahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah
memicu kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di
Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disain yang berdasarkan perhitungan
analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta
merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus-menerus dan dapat
diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik seperti peran dewa-dewa,
roh nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halus tidak ada lagi
dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untuk dinihilkan.
Kalaupun Tuhan dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangat direduksi
sebagai sekedar pencipta awal, dan kemudian alam “ditinggalkan” untuk
berputar sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.
Kesuksesan Fisika Newtonian ternyata hanya berlaku pada dunia
makroskopis, dunia kasat mata dan pada benda yang bergerak dengan
kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Di awal abad ke dua puluh,
Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada
skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika, muncullah
dua cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani oleh
Bohr, Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yang
diungkapkan Einstein.
Fisika Kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan
peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah
melahirkan material semikonduktor, laser dan chips mikroskopis yang pada
gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan
informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapat ditarik untuk
menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperoleh
gambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman
besar) dan berkembang serta berekspansi secara terus menerus.
Implikasi filosofis Fisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang
prinsip ketidakpastian Heisenberg dan participating observer (hasil
eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan
terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya). Dalam dunia sub-atomik,
hukum Fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak
partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang
menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukup ramai.
Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi
dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah
dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger
menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah
persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak memberi
informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen
benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebut
meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah
ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen
dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat “asli”.
Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya
dilukiskan secara dramatis dalam sebuah “eksperimen” yang dikenal dengan
kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing ini bisa dalam dua keadaan
skizofrenik sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu saja semua ini
merupakan bahasa metafora dari ketidakmampuan fisikawan untuk
menerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut
seperti keadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan
konsekuensi pengembangan teori Kuantum.
Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi
terakhir ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam
membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua
justru merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum,
sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat
melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme
selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang
meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat
menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan
sehari-hari.
Lebih jauh tentang konsep participating observer, pola hasil yang
akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan oleh pengamat
atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan penelitian
sosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh lagi
sesuatu benda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar
diamati. Oleh karena itu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran
(consciousness) untuk menjadikan sesuatu benda menjadi “real”. Tanpa
pengamat, maka semesta ini tidak akan ada.
Disini mulai jelas titik singgung antara Fisika modern dengan sufisme
atau mistisisme Timur lainnya. Kita dapat lihat dari salah satu
potongan syair Rumi:
“Aku adalah kehidupan dari yang kucintai
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai”.
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai”.
Juga kita dapat lihat pendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:
“Kosmos berdiri diantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non
eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka
dari itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini al
Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan bahwa ini
makhluk, namun ini bukan makhluk”.
Bahasa Rumi “Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau
ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan Mekanika
Kuantum yang juga mengungkapkan tentang “hidup yang juga mati, mati yang
juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini.
Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat
suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang.
Dalam hal ini –secara matematikada bagian yang berada di luar kerucut
ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik ini yang
kita tempati ini masih ada kemungkinan “dunia lain”. Hal ini juga
didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation
atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett pada tahun
1957. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal
ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa
menuju ke “Pintu-pintu ke dunia lain.”
Rumi menulis dalam puisi yang lain “Sang Sufi bermi’raj ke ‘Arsy
dalam sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari
perjalanan.” Meskipun puisi ini sedikit menunjukkan nada yang agak
sombong dari Sang Sufi, namun jelas menunjukkan adanya keserupaan dengan
konsep relativitas pada Fisika modern.
Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15
trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan —big bang— dan
galaksi-galaksi tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti
yang dijelaskan oleh sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan
pembangkitan kembali. Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah
sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon,
oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang
sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semua dalam
alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi secara
sederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya
naik menuju (cosmic ascent) kepada Allah.
Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus
dilakukan terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain,
dunia ghoib, pengkerutan waktu, ketidakpastian, “hidup tetapi mati”,
kesadaran dapat mempengaruhi materi, “ada tetapi tidak ada”, siklus
kehidupan dan asal usul semesta.
Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak
lagi yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan realitas
yang sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena keterbatasan bahasa
manusia atau keterbatasan kemampuan logis manusia? Atau semua ini
merupakan harta tersembunyi sebagaimana yang diungkapkan oleh sebuah
hadist qudsi: Allah telah berkata “Aku adalah harta tersembunyi yang
perlu disingkap, Aku ciptakan semesta sehingga Aku dapat diketahui”
Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab,
namun mengikuti “semangat teori Kuantum” yang maju terus memberikan
kontribusi penting pada peradaban manusia meskipun telah meninggalkan
Einstein dalam kegelisahan interpretasi. Adakah sekarang manfaat praktis
yang dapat ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisika modern?
Sudah saatnya para fisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di
Fisika namun merujuk pada entitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu
energi. Di Fisika, istilah energi menunjukkan suatu besaran yang sangat
real, sementara di sufisme istilah ini lebih abstrak. Para ahli sufi
sebenarnya meminjam istilah ini karena ada keserupaan, meskipun pada
dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbukti secara empiris
bahwa para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energi metafisik yang
berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan seperti
penyembuhan sakit fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya
tidak mengerti bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan
sepenuhnya melakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat
melakukan penjelasan hal ini karena memang dimungkinkan dalam teori
Kuantum bahwa kesadaran dapat mempengaruhi materi (mind over matter).
Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk
kemanusiaan. Akan muncul sekali banyak manfaat bila dilakukan eksplorasi
secara seksama hubungan antara sufisme dan Fisika modern.
Kamis, 22 Maret 2012
Abdus Salam – Orang Pakistan Peraih Nobel
“Penciptaan fisika merupakan warisan bersama
seluruh umat manusia. Timur dan Barat, Utara dan Selatan,
semua mempunyai saham yang sama di dalamnya.” Kata-kata
ini dinyatakan Abdus Salam, seorang peraih nobel fisika di
depan peserta Simposium Universitas PBB, Kuwait, 1981. Ia
menyampaikan hal ini untuk mengingatkan penduduk negara
dunia ketiga yang merasa kalah bersaing di dunia ilmu
pengetahuan karena kekurangan kesempatan dan sumberdaya.
Fisikawan besar ini memang dikenal sangat peduli pada upaya memajukan sains
terutama di negara-negara berkembang. Kepeduliannya itu sangat mungkin
dilatarbelakangi pengalaman pahitnya menggeluti dunia sains di negerinya sendiri.
Abdus Salam dilahirkan di Jhang, Pakistan, tanggal 29 Januari 1926.
Meskipun orangtuanya bukanlah ilmuwan hebat, namun keluarganya memiliki tradisi
pendidikan yang cukup kuat. Ayahnya adalah pegawai departemen pendidikan di
daerah pertanian miskin. Pada usia 14 tahun, Salam sudah memperlihatkan bakat
istimewanya di bidang sains. Ia memecahkan rekor nilai tertinggi untuk ujian
matrikulasi di Universitas Punjab. Beasiswa demi beasiswapun diraihnya. Setelah
kuliah di Universitas Punjab, Salam meneruskan studinya ke St. John's College,
Inggris dan meraih gelar BA sekaligus untuk matematika dan fisika pada 1949.
Hanya setahun berselang, Salam memenangkan Smith’s Prize di University of
Cambrigde untuk kontribusi pra-doktornya di bidang fisika yang dinilai bermutu
tinggi. Pada usia 26 tahun, ia menerima gelar PhD untuk fisika teori dari universitas
yang sama. Tesisnya yang dipublikasikan tahun 1951 tentang elektrodinamika
kuantum telah membuatnya terkenal dan memiliki reputasi internasional.
Meskipun telah mendapat tawaran mengajar dan riset dari almamaternya,
Salam memilih pulang ke tanah airnya. Pemerintah Pakistan lalu mengangkat pemuda
dari keluarga menengah ke bawah ini sebagai Profesor di Government College,
Lahore. Ia juga diangkat sebagai Kepala Departemen Matematika Universitas Punjab.
Namun malangnya di negeri tercintanya itu, Salam justru tidak menemukan tradisi
riset dan dukungan yang memadai, tidak ada jurnal juga kesempatan menghadiri
konferensi ilmiah. Bahkan ia disarankan pimpinannya untuk melupakan riset-risetnya.
Setelah bertahan di Lahore selama tiga tahun, ia tersudut pada pilihan
dilematis: fisika atau Pakistan. Akhirnya Salam memutuskan kembali ke Inggris.
Tahun 1957 ia menjadi Professor di Imperial College, suatu universitas yang sangat
terkenal di Inggris. Di sana prestasinya tidak terbendung lagi. Ratusan publikasi hasil
riset dan buah pemikirannya senantiasa mengundang penghargaan serta kepercayaan
menduduki jabatan tinggi di berbagai institusi. Di PBB, Salam dipercaya sebagai
sekretaris jenderal bidang sains untuk konferensi penggunaan damai energi atom,
Jenewa (1955 dan 1958), serta pimpinan komisi penasehat bidang sains dan teknologi
(1971-72). Untuk negerinya, penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari puluhan
lembaga ilmiah di seluruh dunia ini mengabdikan diri di bidang pendidikan, energi
atom dan ruang angkasa. Dia juga ditunjuk menjadi penasehat presiden untuk bidang
sains (1961-74).
Pada tahun 1979, nama Abdus Salam tercatat dalam sejarah perkembangan
ilmu fisika dunia. Ia bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow dianugerahi
Nobel Fisika untuk kontribusinya dalam menyatukan gaya elektromagnetik dan gaya
nuklir lemah. Teori yang dinamakan elektrolemah (electroweak) menjadi suatu
pijakan pengembangan teori penyatuan maha agung (grand unification theory) yang
berusaha menyatukan kedua gaya ini dengan gaya inti (gaya kuat). Sekarang teori
yang dikembangkan Abdus Salam ini menjadi inti penting dalam pengembangan
model standar (stardard model) fisika partikel. Kesahihan teori Abdus Salam ini
sudah diuji pada Superprotosynchrotron di CERN Geneva yang telah memimpin
pada penemuan partikel W dan Z.
Reputasinya yang kian melambung ternyata tidak membuat Salam lalai untuk
tetap berjuang mencari jalan agar orang-orang seperti dirinya yang berasal dari dunia
ketiga tidak kehilangan peluang besar menjadi ilmuwan peringkat puncak. Bersama
kolega-kolega Eropa dan Amerikanya, serta atas bantuan PBB khususnya Lembaga
Energi Atom Internasional, pada tahun 1964, berdirilah ICPT (International Center
for Theoritical Physics) di Trieste, Italia.
Pendirian lembaga yang kemudian secara reguler dikunjungi para ilmuwan
dari 50-an negara berkembang ini menurut Herwing Schopper, presiden masyarakat
Fisika Eropa, merupakan sumbangan sangat besar bagi komunitas fisikawan. Selama
30 tahun, ICTP telah dikunjungi oleh 60.000 ilmuwan dari 150 negara. Selain itu,
juga mendirikan dan menjadi presiden The Third World Academy of Sciences dan
presiden pertama The Third World Network of Scientific Organization.
Siapapun yang menyimak upayanya yang tak kenal lelah dalam riset fisika dan
pengembangan tradisi ilmiah di negara berkembang rasanya setuju dengan apa yang
pernah ditulis majalah sains internasional, New Scientist, edisi 26 Agustus 1976,
“Dunia merugi karena Abdus Salam hanya dapat hidup sekali.” (Yohanes Surya).
seluruh umat manusia. Timur dan Barat, Utara dan Selatan,
semua mempunyai saham yang sama di dalamnya.” Kata-kata
ini dinyatakan Abdus Salam, seorang peraih nobel fisika di
depan peserta Simposium Universitas PBB, Kuwait, 1981. Ia
menyampaikan hal ini untuk mengingatkan penduduk negara
dunia ketiga yang merasa kalah bersaing di dunia ilmu
pengetahuan karena kekurangan kesempatan dan sumberdaya.
Fisikawan besar ini memang dikenal sangat peduli pada upaya memajukan sains
terutama di negara-negara berkembang. Kepeduliannya itu sangat mungkin
dilatarbelakangi pengalaman pahitnya menggeluti dunia sains di negerinya sendiri.
Abdus Salam dilahirkan di Jhang, Pakistan, tanggal 29 Januari 1926.
Meskipun orangtuanya bukanlah ilmuwan hebat, namun keluarganya memiliki tradisi
pendidikan yang cukup kuat. Ayahnya adalah pegawai departemen pendidikan di
daerah pertanian miskin. Pada usia 14 tahun, Salam sudah memperlihatkan bakat
istimewanya di bidang sains. Ia memecahkan rekor nilai tertinggi untuk ujian
matrikulasi di Universitas Punjab. Beasiswa demi beasiswapun diraihnya. Setelah
kuliah di Universitas Punjab, Salam meneruskan studinya ke St. John's College,
Inggris dan meraih gelar BA sekaligus untuk matematika dan fisika pada 1949.
Hanya setahun berselang, Salam memenangkan Smith’s Prize di University of
Cambrigde untuk kontribusi pra-doktornya di bidang fisika yang dinilai bermutu
tinggi. Pada usia 26 tahun, ia menerima gelar PhD untuk fisika teori dari universitas
yang sama. Tesisnya yang dipublikasikan tahun 1951 tentang elektrodinamika
kuantum telah membuatnya terkenal dan memiliki reputasi internasional.
Meskipun telah mendapat tawaran mengajar dan riset dari almamaternya,
Salam memilih pulang ke tanah airnya. Pemerintah Pakistan lalu mengangkat pemuda
dari keluarga menengah ke bawah ini sebagai Profesor di Government College,
Lahore. Ia juga diangkat sebagai Kepala Departemen Matematika Universitas Punjab.
Namun malangnya di negeri tercintanya itu, Salam justru tidak menemukan tradisi
riset dan dukungan yang memadai, tidak ada jurnal juga kesempatan menghadiri
konferensi ilmiah. Bahkan ia disarankan pimpinannya untuk melupakan riset-risetnya.
Setelah bertahan di Lahore selama tiga tahun, ia tersudut pada pilihan
dilematis: fisika atau Pakistan. Akhirnya Salam memutuskan kembali ke Inggris.
Tahun 1957 ia menjadi Professor di Imperial College, suatu universitas yang sangat
terkenal di Inggris. Di sana prestasinya tidak terbendung lagi. Ratusan publikasi hasil
riset dan buah pemikirannya senantiasa mengundang penghargaan serta kepercayaan
menduduki jabatan tinggi di berbagai institusi. Di PBB, Salam dipercaya sebagai
sekretaris jenderal bidang sains untuk konferensi penggunaan damai energi atom,
Jenewa (1955 dan 1958), serta pimpinan komisi penasehat bidang sains dan teknologi
(1971-72). Untuk negerinya, penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari puluhan
lembaga ilmiah di seluruh dunia ini mengabdikan diri di bidang pendidikan, energi
atom dan ruang angkasa. Dia juga ditunjuk menjadi penasehat presiden untuk bidang
sains (1961-74).
Pada tahun 1979, nama Abdus Salam tercatat dalam sejarah perkembangan
ilmu fisika dunia. Ia bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow dianugerahi
Nobel Fisika untuk kontribusinya dalam menyatukan gaya elektromagnetik dan gaya
nuklir lemah. Teori yang dinamakan elektrolemah (electroweak) menjadi suatu
pijakan pengembangan teori penyatuan maha agung (grand unification theory) yang
berusaha menyatukan kedua gaya ini dengan gaya inti (gaya kuat). Sekarang teori
yang dikembangkan Abdus Salam ini menjadi inti penting dalam pengembangan
model standar (stardard model) fisika partikel. Kesahihan teori Abdus Salam ini
sudah diuji pada Superprotosynchrotron di CERN Geneva yang telah memimpin
pada penemuan partikel W dan Z.
Reputasinya yang kian melambung ternyata tidak membuat Salam lalai untuk
tetap berjuang mencari jalan agar orang-orang seperti dirinya yang berasal dari dunia
ketiga tidak kehilangan peluang besar menjadi ilmuwan peringkat puncak. Bersama
kolega-kolega Eropa dan Amerikanya, serta atas bantuan PBB khususnya Lembaga
Energi Atom Internasional, pada tahun 1964, berdirilah ICPT (International Center
for Theoritical Physics) di Trieste, Italia.
Pendirian lembaga yang kemudian secara reguler dikunjungi para ilmuwan
dari 50-an negara berkembang ini menurut Herwing Schopper, presiden masyarakat
Fisika Eropa, merupakan sumbangan sangat besar bagi komunitas fisikawan. Selama
30 tahun, ICTP telah dikunjungi oleh 60.000 ilmuwan dari 150 negara. Selain itu,
juga mendirikan dan menjadi presiden The Third World Academy of Sciences dan
presiden pertama The Third World Network of Scientific Organization.
Siapapun yang menyimak upayanya yang tak kenal lelah dalam riset fisika dan
pengembangan tradisi ilmiah di negara berkembang rasanya setuju dengan apa yang
pernah ditulis majalah sains internasional, New Scientist, edisi 26 Agustus 1976,
“Dunia merugi karena Abdus Salam hanya dapat hidup sekali.” (Yohanes Surya).
Kamis, 26 Januari 2012
Daftar Beberapa Ilmuwan Muslim
Daftar Beberapa Ilmuwan Muslim
701 M Khalid bin Yazid
721 M Jabir Ibnu Hayyan (Geber )
740 M Al Asmai
780 M Al Khawarizm (Algorizm)
787 M Al Balkhi, Ja'far Bin Muahammas (Albumasar)
796 M Al Farazi, Ibrahim bin Habib
800 M Al Kindi Ibnu Ishaq (Alkindus)
808 M Hunain Bin Ishaq
815 M Al Dinawari, Abu Hanifah Ahmad bin Dawud
836 M Thabit bin Qurrah (Thebit)
838 M Ali Bin Rabban At Tabari
852 M Abu Abdullah Al Battani (Al Bategni)
857 M Ibnu Masawaih (Yuhanna)
858 M Al Battani
860 M Al Farghani (Al Farganus)
884 M Al Razi (Razes)
870 M Al Farabi
900 M Abu Hamid ,Al Ustrulabi
903 M Al Sufi (Azophi)
908 M Thabit Bin Qurrah
912 M Muhammad Bin Amyal, At Tamimi
923 M Al Fadl bin Ahmad, A Nirizi
930 M Ahmad Abuali, Ibnu Miskawayh
932 M Ahmad Ath Thabari
936 M Abu Al Qasim, Al Zahrawi (Albuzasis)
940 M Muhammad Al Buzjani
950 M Abu Al Qasim, Al Majatti
960 M Abu Bakar, Ibnu Wahshiyh
965 M Ibnu Haitham (Alhazen)
973 M Abu Raihan, Al Biruni
976 M Ibnu Abil Ashath
980 M Ibnu Sina (Avicenna)
983 M Ikhwan As Safa (Assafa)
1019 M Al Hasib, Al Karji
1029 M Al Zarqali (Arzachel)
1044 M Omar, Al Khayyam
1060 M Ali Bin Ridwan Abu Hasan Ali
1077 M Abu Al Qasim, Ibnu Abi Sadia
1090 M Ibnu Zuhr (Avenzur)
1095 M Muhammad Bin Yahya, Ibnu Bajah
1097 M Diauddin, Ibnu Al Baitar (Bitar)
1099 M Al Idrisi (Dresses)
1100 M Ibnu Tufail Al Qaysi
1120 M Husain bin Ali, Al Tuhrai'
1128 M Ibnu Rushid (Averus)
1135 M Musa, Ibnu Maymun (Maimonides)
1155 M Abdur Rahman , Al Khazin
1162 M Abdul Latif Muwafaq, Al Baghdadi
1165 M Abul Abbas, Ibnu Rumiyyah (Annabati)
1173 M Rasyid Al Din Al Suri
1184 M Shihabud Din, Al Tifashi (Attifashi)
1201 M Nasirudin, Al Tusi
1203 M Muwaffaq Ad Din, Ibnu Abi Usaibi'ah
1204 M Albitruji (Alpetragius)
1213 M Ibnu Nafis Damshiq
1236 M Quthb Aldin , Al Shirazi
1248 M Ibnu Baitar
1258 M Azdi, Ibnu Banna Al Murrakishi
1273 M Al Fida (Abdulfida)
1306 M Ibnu Shatir Ad Damsyq
1329 M Muhammad Bin Aidamir, Al Jildaki
1351 M Abu Abbas Bin Tanbugha, Ibnu Majdi
1359 M Shihabudin Bin Tanbugha, Ibnu Magdi
Langganan:
Postingan (Atom)